Cut Nyak Dien, Perempuan Pejuang Jati Diri Bangsa
Siapa yang tidak kenal Cut Nyak Dien, Pahlawan Pembela Jati Diri Bangsa dari tanah rencong, perempuan berhati baja ini di lahirkan pada tahun 1850 dan meninggal pada tahun 1908, Srikandi dari Aceh ini hingga hembusan nafasnya yang terakhir tetap dalam tekadnya yang membaja untuk tidak pernah mau tunduk pada penjajah.
Jiwa perjuangan Cut Nyak Dien, tidak tumbuh begitu saja dalam dirinya, tapi memang ayahnya juga merupakan seorang penggerak perlawanan pada Belanda. Ketika tanah kelahirannya tercinta di duduki oleh penjajah belanda terpaksa ia harus berpisah dengan ayah dan suaminya yang berjuang melawan penjajah. Perpisahannya dengan sang suami yang belum lama menikahinya ternyata adalah perpisahan untuk selamanya, karena sang suami gugur dalam peperangan melawan belanda pada perang di Gle Tarum pada tahun 1879. Mendengar berita kematian suaminya akibat kekejaman belanda membuat Cut Nyak Dien bersumpah untuk menuntut balas kematian suaminya dan melanjutkan perlawanan suaminya pada Belanda, dan bertekad tidak akan menikah lagi kecuali dengan laki-laki yang mau membantu perjuangannya.
Dua tahun setelah kematian suaminya, tekadnya untuk tidak menikah kecuali dengan laki-laki yang mau berjuang untuk bangsanya benar-benar di tepati, Ia akhirnya menikah dengan tengku Imam Bonjol, beliau adalah pahlawan perjuangan melawan belanda yang terkenal banyak membuat kerugian bagi penjajah belanda. Namun rupanya Syahid menjemput sang suaminya juga pada suatu pertempuran di Meulaboh.
Kematian suaminya tidak membuat sang Cut Nyak Dien patah semangat, namun sebaliknya semangat untuk meneruskan perlawanan semakin menggelora, perjuangan tetap ia jalankan dengan meneruskan perang gerilya melawan belanda.
Bertahun-tahun perlawanan Cut Nyak Dien semakin membuat belanda kalang kabut, dan belanda pun tidak pernah bisa menawan dan mematahkan perlawanan Cut Nyak Dien, sampai akhirnya ada salah seorang panglimanya yang merasa kasihan kepada Cut Nyak Dien karena sudah tua, dan ingin melihat Cut menjalani hari tuanya dengan damai tanpa harus sembunyi-sembunyi di hutan, maka ia mengambil inisiatif sendiri untuk menghubungi belanda, dan akhirnya beliau di tangkap belanda. Namun walaupun telah ditangkap tapi tetap saja dia mengadakan kontak dengan kelompok perlawanan, sehingga hal ini membuat penjajah belanda marah sehingga beliau di buang ke tanah jawa, Hingga beliau meninggal dalam pembuangan.
Itulah Sosok wanita Pejuang yang sampai akhir hayatnya berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengembalikan Jati Diri Bangsa meski harus mengorbankan semua yang ia miliki.
Related posts:
mengembalikan jati diri bangsa lewat peringatan hari pahlawan