Cut Nyak Dien, Perempuan Pejuang Jati Diri Bangsa

Posted in Mengembalikan Jati Diri Bangsa on August 6th, 2009 by admin – 5 Comments

Siapa yang tidak kenal Cut Nyak Dien, Pahlawan Pembela Jati Diri Bangsa dari tanah rencong, perempuan berhati baja ini di lahirkan pada tahun 1850 dan meninggal pada tahun 1908, Srikandi dari Aceh ini hingga hembusan nafasnya yang terakhir tetap dalam tekadnya yang membaja untuk tidak pernah mau tunduk pada penjajah.

Jiwa perjuangan Cut Nyak Dien, tidak tumbuh begitu saja dalam dirinya, tapi memang ayahnya juga merupakan seorang penggerak perlawanan pada Belanda.  Ketika tanah kelahirannya tercinta di duduki oleh penjajah belanda terpaksa ia harus berpisah dengan ayah dan suaminya yang berjuang melawan penjajah. Perpisahannya dengan sang suami yang belum lama menikahinya ternyata adalah perpisahan untuk selamanya, karena sang suami gugur dalam peperangan melawan belanda pada perang di Gle Tarum pada tahun 1879.  Mendengar berita kematian suaminya akibat kekejaman belanda membuat Cut Nyak Dien bersumpah untuk menuntut balas kematian suaminya dan melanjutkan perlawanan suaminya pada Belanda, dan bertekad tidak akan menikah lagi kecuali dengan laki-laki yang mau membantu perjuangannya.

Dua tahun setelah kematian suaminya, tekadnya untuk tidak menikah kecuali dengan laki-laki yang mau berjuang untuk bangsanya benar-benar di tepati, Ia akhirnya menikah dengan tengku Imam Bonjol, beliau adalah pahlawan perjuangan melawan belanda yang terkenal banyak membuat kerugian bagi penjajah belanda.  Namun rupanya Syahid menjemput sang suaminya juga pada suatu pertempuran di Meulaboh.

Kematian suaminya tidak membuat sang Cut Nyak Dien patah semangat, namun sebaliknya semangat untuk meneruskan perlawanan semakin menggelora, perjuangan tetap ia jalankan dengan meneruskan perang gerilya melawan belanda.

Bertahun-tahun perlawanan Cut Nyak Dien semakin membuat belanda kalang kabut, dan belanda pun tidak pernah bisa menawan dan mematahkan perlawanan Cut Nyak Dien, sampai akhirnya ada salah seorang panglimanya yang merasa kasihan kepada Cut Nyak Dien karena sudah tua, dan ingin melihat Cut menjalani hari tuanya dengan damai tanpa harus sembunyi-sembunyi di hutan, maka ia mengambil inisiatif sendiri untuk menghubungi belanda, dan akhirnya beliau di tangkap belanda. Namun walaupun telah ditangkap tapi tetap saja dia mengadakan kontak dengan kelompok perlawanan, sehingga hal ini membuat penjajah belanda marah sehingga beliau di buang ke tanah jawa, Hingga beliau meninggal dalam pembuangan.

Itulah Sosok wanita Pejuang yang sampai akhir hayatnya berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengembalikan Jati Diri Bangsa meski harus mengorbankan semua yang ia miliki.

Pahlawan Jati Diri bangsa (1)

Posted in Mengembalikan Jati Diri Bangsa on July 28th, 2009 by admin – 3 Comments

Bulan Agustus  sudah di depan mata, bulan yang penuh sejarah, bulan dimana Indonesia berhasil mengembalikan jati diri bangsa dari kehinaan dan penindasan bangsa terkutuk penjajah, Bagaimana tidak, lebih dari 350 tahun bangsa ini hidup dibawah penindasaan dan menghinaan oleh bangsa lain, akhirnya bisa dengan lantang memekikkan kata Merdeka dengan lantang di mata dunia.

Untuk Itulah dalam rangka menyambut bulan Agustus ini, blog ini inshaAllah akan menampilkan serial para pahlawan pembela dan penegak Jati Diri Bangsa. Semoga akan bermanfaat bagi kita semua terutama yang membaca blog ini, Bangsa Yang Besar adalah Bangsa Yang Menghargai jasa para Pahlawannya.

Pangeran Diponegoro.
Diponegoro_pahlawan_jati_diri_bangsaBeliau bernama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo, dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1785, beliau merupakan putra pertama dari Hamengkubuwono III, yang merupakan raja Mataram, Ia adalah anak dari istri selir Raja Hamengkubowono III yang bernama R.A. Mangkarawati.
Melihat kecerdasan dan karakter Diponegoro kecil ini ayahnya menghendaki dia untuk menggantikan kedudukan beliau suatu saat nanti, namun ia sadar bahwa ia hanyalah putra dari seorang selir, maka ia lebih memilih kehidupan yang reliji dan tinggal di Tegalrejo.
Perlawanan Diponegoro
Puncak kemuakan Pangeran diponegoro pada penjajah belanda semakin tak terbendungkan manakala penjajah belanda terkutuk merebut dan menguasai tanah Diponegoro dengan seenaknya mereka membuat patok di tanah yang merupakan hak miliknya. Jangan dilihat hanya sebuah patok, tapi disitulah Harga diri Dan Jati Diri sebagai seorang anak bangsa terusik karena orang asing dengan seenaknya mengambil tanah airnya. Itulah Sang Pangeran Diponegoro. Dari situlah Diponegoro melancarkan perlawanan kepada penjajah Belanda dengan terbuka, hal ini didukung dan disambut oleh segenap rakyat, Pamannya, Pangeran mangkubumi menyarankan Diponegoro untuk menyingkir ke Gua Selarong dan membuat markas perlawanan disana. Diponegoro menyerukan Jihad, perlawanannya pada penjajah belanda adalah perang Sabilillah, perang di jalan Allah, ya memang benar perang mempertahankan tanah air adalah salah satu perang dijalan Allah.
Gigihnya perlawanan dibawah komando Diponegoro membuat belanda kalang kabut dan mengalami kerugian yang sangat besar, tidak kurang dari 15.000 tentara Belanda modar, segala macam cara digunakan untuk bisa menangkap Sang Pahlawan jati Diri bangsa, bahkan diadakan kontes untuk menangkap beliau dengan hadiah 50.000 Gulden.
Namun akhirnya Sang Pahlawan berhasil ditangkap dengan cara yang sangat licik oleh si Busuk Belanda, Tapi semangat Diponegoro untuk Mengembalikan Jati Diri Bangsa tak akan pernah luntur sampai kapanpun.