Pahlawan Jati Diri bangsa (1)
Posted in Mengembalikan Jati Diri Bangsa on July 28th, 2009 by admin – 3 CommentsBulan Agustus sudah di depan mata, bulan yang penuh sejarah, bulan dimana Indonesia berhasil mengembalikan jati diri bangsa dari kehinaan dan penindasan bangsa terkutuk penjajah, Bagaimana tidak, lebih dari 350 tahun bangsa ini hidup dibawah penindasaan dan menghinaan oleh bangsa lain, akhirnya bisa dengan lantang memekikkan kata Merdeka dengan lantang di mata dunia.
Untuk Itulah dalam rangka menyambut bulan Agustus ini, blog ini inshaAllah akan menampilkan serial para pahlawan pembela dan penegak Jati Diri Bangsa. Semoga akan bermanfaat bagi kita semua terutama yang membaca blog ini, Bangsa Yang Besar adalah Bangsa Yang Menghargai jasa para Pahlawannya.
Pangeran Diponegoro.
Beliau bernama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo, dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1785, beliau merupakan putra pertama dari Hamengkubuwono III, yang merupakan raja Mataram, Ia adalah anak dari istri selir Raja Hamengkubowono III yang bernama R.A. Mangkarawati.
Melihat kecerdasan dan karakter Diponegoro kecil ini ayahnya menghendaki dia untuk menggantikan kedudukan beliau suatu saat nanti, namun ia sadar bahwa ia hanyalah putra dari seorang selir, maka ia lebih memilih kehidupan yang reliji dan tinggal di Tegalrejo.
Perlawanan Diponegoro
Puncak kemuakan Pangeran diponegoro pada penjajah belanda semakin tak terbendungkan manakala penjajah belanda terkutuk merebut dan menguasai tanah Diponegoro dengan seenaknya mereka membuat patok di tanah yang merupakan hak miliknya. Jangan dilihat hanya sebuah patok, tapi disitulah Harga diri Dan Jati Diri sebagai seorang anak bangsa terusik karena orang asing dengan seenaknya mengambil tanah airnya. Itulah Sang Pangeran Diponegoro. Dari situlah Diponegoro melancarkan perlawanan kepada penjajah Belanda dengan terbuka, hal ini didukung dan disambut oleh segenap rakyat, Pamannya, Pangeran mangkubumi menyarankan Diponegoro untuk menyingkir ke Gua Selarong dan membuat markas perlawanan disana. Diponegoro menyerukan Jihad, perlawanannya pada penjajah belanda adalah perang Sabilillah, perang di jalan Allah, ya memang benar perang mempertahankan tanah air adalah salah satu perang dijalan Allah.
Gigihnya perlawanan dibawah komando Diponegoro membuat belanda kalang kabut dan mengalami kerugian yang sangat besar, tidak kurang dari 15.000 tentara Belanda modar, segala macam cara digunakan untuk bisa menangkap Sang Pahlawan jati Diri bangsa, bahkan diadakan kontes untuk menangkap beliau dengan hadiah 50.000 Gulden.
Namun akhirnya Sang Pahlawan berhasil ditangkap dengan cara yang sangat licik oleh si Busuk Belanda, Tapi semangat Diponegoro untuk Mengembalikan Jati Diri Bangsa tak akan pernah luntur sampai kapanpun.